Subscribe:

Senin, 19 Desember 2011

Resep Sederhana Mengelola Keuangan Keluarga


Menjadi istri yang pandai mengelola keuangan keluarga? Hm,,, siapa yang tidak mau. Setiap istri pasti menginginkan menjadi pribadi yang pandai mengelola keuangan keluarga. Kenapa seorang istri yang menjadi bahasan? Inilah jawabannya.

Ibu rumah tangga merupakan sosok penting sebagai pengelola keuangan keluarga. Namun selain itu, bukan rahasia umum lagi jika perempuan memang senang untuk berbelanja. Pernahkah Anda merasakan suasana dilematis antara keinginan berbelanja dan memenuhi kebutuhan keluarga? Jika hal itu memang terjadi, bersyukurlah karena Anda akan menjadi istri dambaan suami jika dan hanya jika mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan pribadi juga. Dalam mengelola keuangan keluarga, setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan guna terpenuhinya keseimbangan pemasukan dan pengeluaran.

Pertama, kenali dengan baik keadaan keuangan keluarga. Ada baiknya pos-pos pemasukan dan pengeluaran ditulis, sehingga akan terlihat keperluan apa saja yang harus dipenuhi pada setiap bulannya. Mengetahui keadaan keluarga sangat penting dilakukan. Dengan landasan ini, hal selanjutnya dapat dilakukan dengan baik.

Kedua, menyusun rencana keuangan bulanan. Setelah mengetahui keadaan keuangan, sebaiknya disusun rencana keuangan untuk satu bulan ke depan. Penyusunan ini bisa disusun secara realistis. Tidak ada salahnya, untuk memasukan anggaran bertamsya dengan keluarga atau memenuhi kebutuhan tersier lainnya. Sebagai muslim, sebaiknya menganggarkan terlebih dahulu untuk bershodaqah, selanjutnya kebutuhan investasi, tabungan, biaya rutin bulanan, konsumsi dan biaya lain-lain.

Berikut ini adalah contoh sederhana penyusunan rencana keuangan keluarga:

PENDAPATAN: ANGGARAN REALISASI

Gaji Suami Rp. 5000.000,- Rp. 5000.000,-

Gaji Istri Rp. 2000.000,- Rp. 2000.000,-

Hasil Usaha Sampingan Rp. 3000.000,- Rp. 2.500.000,-

Lain-lain Rp. 1.500.000,- Rp. 1.500.000,-

Total Rp. 11.500.000,- Rp. 11.000.000,-

TABUNGAN DAN INVESTASI:

Tabungan Rp. 1.500.000,- Rp. 1.500.000,-

Investasi Rp. 1.500.000,- Rp. 1.500.000,-

Asuransi Rp. 1.000.000,- Rp. 1.000.000,-

Total Rp. 4.000.000,- Rp. 4000.000,-

PENGELUARAN:

Rumah Tangga Rp. 2.000.000,- Rp. 2.000.000,-

Pengeluaran Anak Rp. 1.000.000,- Rp. 1.000.000,-

Transportasi Rp. 1.500.000,- Rp. 1.500.000,-

Cicilan Rp. 1.500.000,- Rp. 1.500.000,-

TOTAL Rp. 6.000.000,- Rp. 6.000.000,-

SALDO Rp. 1.500.000,- Rp. 1000.000,-

Ketiga, meminimalkan belanja konsumtif. Belanja konsumtif seringkali menjadi virus dari rencana keuangan yang sudah disusun. Pengeluarannya acapkali tidak terlalu besar, namun karena tidak besar itulah kita terlena dan seenaknya mengeluarkan anggaran. Khusus bagi kalangan ibu-ibu rumah tangga ini menjadi tantangan tersendiri untuk bisa mengatur keuangan sebijak dan sebaik mungkin. Jika direncanakan secara realistis dan dilakukan dalam waktu yang tepat, berbelanja tidak ada salahnya. Selama tidak merugikan dan mengurangi kepentingan lainnya.

Hal yang paling tidak menyenangkan adalah impulse buying atau keinginan berbelanja seketika ketika melihat sesuatu yang sangat menyenangkan. Misalkan melihat diskon gede-gedean, atau barang yang sudah lama diimpikan. Jika hal ini terjadi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan salah satunya jangan ambil keputusan di tempat, tinggalkan dulu barang tersebut dan cari barang lain. Perilaku impulse buying bisa merusak rencana keuangan yang sudah disusun.

Keempat, kenali dengan baik antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan adalah segala sesatu yang jika tidak dipenuhi maka akan menimbulkan dampak madharat bagi kita. Contoh sederhana begini. Seorang lelaki merasa kehausan di tengah cuaca yang sangat terik. Jika ia tidak minum, dapat dipastikan akan pingsan. Pada saat itu, minum merupakan hal wajib dan menjadi kebutuhan untuk dirinya. Jika tidak, bisa jadi ia sakit atau mengalami hal lainnya yang tidak diinginkan. Begitupun dalam pengelolaan keuangan. Jika bisa mengidentifiaksi dengan baik antara kebutuhan dan keinginan seraya disertai dengan keteguhan hati mengikuti rencana keuangan yang telah disusun, maka keuangan keluarga pun akan terjamin kelangsungannya.

Kelima, menabung. Kebiasaan menabung bukan hanya bagi anak-anak SD rupanya. Bagi pasangan keluarga pun, anggaran tabungan tetap ditekankan. Anggaran untuk menabung sebaiknya tidak diporsikan diakhir akan tetapi di awal sebelum pengeluaran untuk konsumsi. Hal ini dilakukan untuk melatih diri bahwa tabungan merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus diutamakan.

Keenam, berinvestasi. Tidak ada salahnya jika anggaran keuangan keluarga disisihkan untuk berinestasi. Jika menabung lebih bersifat preventif dari keaadaan yang tidak diinginkan, investasi adalah tindakan positiv untuk menambah aset dan pemasukan keluarga. Dengan berinvestasi, pendapatan pun akan meningkat. Investasi bisa dilakukan di pasar uang seperti forex, pasar modal seperti saham, obligasi, reksa dana dan sebagainya bahkan di pasar riil sekalipun.

Ketujuh, ikuti program asuransi. Asuransi merupakan produk keuangan yang bersifat penanggulangan terhadap suatu kejadian yang tidak diinginkan. Salah satu asuransi penting yang bisa diikuti adalah asuransi pendidikan bagi anak. Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa, dengan adanya asuransi setidaknya pendidikan anak cukup terjamin seandainya terjadi sesuatu dengan anaknya. Asuransi lain yang penting adalah asuransi kesehatan.

Mengelola keuangan memang tidak hanya melulu soal penyusunan anggaran dan pengeluaran. Jika tidak ditaati, apa yang sudah dituliskan akan menjadi sia-sia dan hanya sebagai macan kertas yang tidak berarti apa-apa. So, konsistensi dan kepatuhan kita pada apa yang telah ditulis mutlak untuk dilakukan. Semoga tulisan ini bermanfaat, Amin.

Tulisan ini telah dimuat di Majalah Keluarga, Muzakki, Edisi 77 Tahun ke VI Desember 2011.

1 komentar:

Blogger mengatakan...

eToro is the most recommended forex broker for newbie and established traders.

Poskan Komentar

Pasang Link Kamu Disini!!!